in

Ini Orasi Ilmiah Tiga Guru Besar Unram saat Dikukuhkan

Foto bersama usai pengukuhan tiga guru besar lingkup Universitas Mataram (Foto: Humas Unram)

TITIKMEDIA – Tiga profesor lingkup Universitas Mataram atau Unram, Rabu (2/12), dikukuhkan sebagai guru besar sesuai disiplin keilmuannya. Dalam acara yang digelar dengan tetap mematuhi protokol kesehatan (prokes) Covid-19 tersebut, ketiga guru besar yang baru dikukuhkan itu menyampaikan orasi ilmiah.

Dalam Rapat Terbuka Senat Unram yang digelar secara luring di Ruang Sidang Senat Gedung Rektorat, dan diikuti secara daring melalui kanal Youtube tersebut, Prof. Dr. Kurniawan, S.H., M.Hum. dikukuhkan sebagai Guru Besar Ilmu Hukum Bisnis di Fakultas Hukum (FH).

Selain itu, Prof. Sulhaini, S.E., M.Sc., Ph.D. sebagai Guru Besar Ilmu Manajemen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), dan Prof. Dr. Arifuddin, M.Pd. sebagai Guru Besar Ilmu Pendidikan Bahasa Inggris di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP).

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Dr. Kurniawan, S.H., M.Hum. menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Hukum Acara Persaingan Usaha Paca Diundangkan UU No. 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja.

Profesir kelahiran Desa Ranggagata itu mengatakan, Undang-Undang Cipta Kerja (UU Ciptaker) yang lebih dikenal dengan Omnibus Law, yang telah ditandatangani Presiden Joko Widodo pada 2 November 2020 lalu, bertujuan untuk menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan investasi asing dan dalam negeri, dengan mengurangi persyaratan peraturan untuk izin usaha dan pembebasan tanah.

“Pada bidang usaha UU Ciptaker memuat perubahan terhadap UU No. 5 Tahun 1999, tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat atau UU Anti Monopoli,” ungkapnya.

Dikatakan, perubahan beberapa pasal dalam UU itu telah diatur dalam Bab VI, tentang Kemudahan Berusaha. Tepatnya pada bagian kesebelas, tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat pada Pasal 118.

“Secara garis besar terdapat empat poin penting perubahan, terkait penegakan hukum anti monopoli,” sebutnya.

Prof. Kurniawan menjelaskan, keempat poin tersebut yakni perubahan upaya keberatan dari Pengadilan Negeri ke Pengadilan Niaga, penghapusan jangka waktu penanganan upaya keberatan oleh Pengadilan Niaga dan Mahkamah Agung, penghapusan batasan denda maksimal, dan penghapusan sanksi pidana tambahan.

Sementara Prof. Sulhaini, S.E., M.Sc., Ph.D. manyajikan orasi ilmiah berjudul “Tantangan Merek Lokal di Pasar Domestik Ditinjau dari Perilaku Konsumen Muda”.

Prof. Sulhaini menjelaskan, hubungan konsumen muda dengan merek lokal masih lemah. Hal itu terjadi karena adanya pandangan bahwa merek lokal, tidak menawarkan nilai simbolis dan hedonis yang diinginkan.

“Akan tetapi hubungan konsumen muda dengan merek lokal yang lemah, bisa juga disebabkan oleh ketidakmampuan konsumen untuk mengidentifikasi merek lokal, karena penggunaan nama merek asing dan serta asosiasi merek yang positif,” ungkapnya.

Semakin baik asosiasi merek lokal maka semakin membuat konsumen muda, menganggap merek lokal tersebut berasal dari luar. Hal itu, menurutnya, karena konsumen tidak mengetahui bahwa merek berkualitas dan popular di dalam negeri, sebenarnya adalah merek lokal.

“Jika konsumen mengetahuinya, mereka memiliki citra negara Indonesia yang semakin baik, dan berkomitmen terhadap merek lokal,” ujarnya.

Sedangkan Prof. Dr. Arifuddin, M.Pd. yang mengangkat judul Pembelajaran Pramatik Auditoris dalam Single-Sex Education (SSE) Perspektif Antropologis, Sosiolinguistik dan Neuropsikolinguistik mengatakan, dalam pembelajaran bahasa terdapat beberapa aspek perbedaan antara laki-laki dan perempuan, baik yang terkait langsung maupun tidak langsung.

“Dengan mempertimbangkan kekhasan karakteristik dan gaya berbahasa laki-laki dan perempuan, berdasarkan perspektif antropologis, biologis, sosiolinguistik, dan neuropsikolinguistik, sebaiknya pembelajaran pragmatik dalam listening (mendengarkan, red) dilakukan dalam kelas atau sekolah, untuk jenis kelamin yang sama atau SSE,” urainya.

Dikatakan, melalui pendekatan tersebut akan tercipta suasana belajar Bahasa Inggris yang humanistis, yang diikuti dengan asesmen (evaluasi) performansi Bahasa Inggris berbasis berbagai perspektif.

“Diharapkan pondok pesantren dan juga sekolah umum, mempertimbangkan temuan dan rekomendasi ini,” katanya.

Sebelumnya, Rektor Unram Prof. Dr. Lalu Husni, S.H., M.Hum. dalam sambutan pengukuhan mengatakan, jabatan professor memiliki tanggung jawab yang besar sebagai ujung tombak dalam inovasi dan riset. Dia mendorong setiap satu orang guru besar melahirkan satu guru besar baru.

“Kami berharap setiap satu orang guru besar dapat menghasilkan satu guru besar baru, melalui skema penelitian percepatan guru besar yang sudah kita sediakan,” ucapnya. (red)

What do you think?